Laporan Akhir



1. Jurnal [Kembali]

Nama       : Evan Maulana Alreza

No. BP     : 2510952042

Tanggal Praktikum : 19 MEI 2026

Asisten : - Rahmanda Husein

                - M. Faiz Nurahmantyo

1.     RC Seri

Beban

V terukur

I terukur

V pada beban

Impedansi

Xa = 100 ohm

6,1 V

0,12 mA

1,347 V

44,667 kΩ

Xb = 100 ohm

1,367 V

Xc = 10 uF

5,36 V


2.     RLC Seri

Beban

V terukur

I terukur

V pada beban

Impedansi

Xa = 100 ohm

6,07 V

0,28 mA

1,433 V

19,557 kΩ

Xb = 22 mH

0,184 V

Xc = 10 uF

5, 82 V

 

3.     RLC Paralel

Beban

V terukur

I terukur

11

12

13

V pada beban

Impedansi

Xa = 100 Ω

5,47 V

0,69 mA

1,12 mA

1,39 mA

1,68 mA

5,41 V

99,998 kΩ

Xb = 22 mH

5,47 V

0,69 mA

5,41 V

Xc = 10 uF

5,47 V

0,69 mA

5,41 V

 

2. Prinsip Kerja [Kembali]

1. RC Seri

    a. Susunlah rangkaian seperti pada gambar 4.2

    b. Atur nilai beban R dan C sesuai dengan kondisi yang dimiliki, dimana pada kit modul, nilai :

        • Xa = 100 ohm

        • Xb = 100 ohm

        • Xc = 10 uF

    c. Rangkailah rangkaian menggunakan kabel jumpersesuai dengan bentuk rangkaian yang sudah ada           pada module kit

    d. Hubungkan amperemeter dan voltmeter pada base station pada titik yang ditentukan

    e. Hidupkan catu daya, atur tegangan sesuai jurnal

    f. Ukur nilai arus dan tegangan yang terbaca pada titik yang ditentukan, catat pada jurnal

    g. Ukur nilai tegangan pada masing masing beban, catat pada jurnal

    h. Hitunglah nilai impedansi rangkaian menggunakan rumus impedansi rangkaian RC


2. RLC Seri

    a. Susunlah rangkaian seperti pada gambar 4.4

    b. Atur nilai beban R, L dan C sesuai dengan kondisi yang dimiliki, dimana pada kit modul, nilai :

  •  Xa = 100 ohm
  •  Xb = L2 = 22 mH
  •  Xc = 10 uF

    c. Rangkailah rangkaian menggunakan kabel jumpersesuai dengan bentuk rangkaian yang sudah ada          pada module kit

    d. Hubungkan amperemeter dan voltmeter pada base station pada titik yang ditentukan

    e. Hidupkan catu daya, atur tegangan sesuai jurnal

    f. Ukur nilai arus dan tegangan yang terbaca pada titik yang ditentukan, catat pada jurnal

    g. Ukur nilai tegangan pada masing masing beban, catat pada jurnal

    h. Hitunglah nilai impedansi rangkaian menggunakan rumus impedansi rangkaian RLC seri


3. RLC Paralel

    a. Susunlah rangkaian seperti pada gambar 4.5

    b. Atur nilai beban R dan C sesuai dengan kondisi yang dimiliki, dimana pada kit modul, nilai :

  • Xa = 100 ohm
  • Xb =22 mH
  • Xc = 10 uF

    c. Rangkailah rangkaian menggunakan kabel jumper sesuai dengan bentuk rangkaian yang sudah ada          pada module kit

    d. Hubungkan amperemeter dan voltmeter pada base station pada titik yang ditentukan

    e. Hidupkan catu daya, atur tegangan sesuai jurnal

    f. Ukur nilai arus dan tegangan yang terbaca pada titik yang ditentukan, catat pada jurnal

    g. Ukur nilai tegangan pada masing masing beban, catat pada jurnal

    h. Hitunglah nilai impedansi rangkaian menggunakan rumus impedansi rangkaian RLC paralel


3. Video Percobaan [Kembali]

Rangkaian RC Seri & RLC Seri


Rangkaian RLC Paralel


4. Analisa[Kembali]

1.     Analisa pengaruh R,L, dan C terhadap sudut fasa!

Jawab :

Sudut fasa menentukan seberapa besar pergeseran gelombang antara tegangan total ($V$) dan arus total (I). Secara umum, sifat komponen menentukan arah pergeseran ini:

  •    Hambatan (R): Bersifat sefasa (0o)
  •   Induktansi (L): Menyebabkan tegangan mendahului arus (lagging). Sifat induktif memiliki sudut fasa positif (+90o).
  • Kapasitansi (C): Menyebabkan arus mendahului tegangan (leading). Sifat kapasitif memiliki sudut fasa negatif (-90o).

Pada rangkaian AC, sudut fasa ditentukan oleh X L dan XC :

  • Jika XL > XC, rangkaian bersifat induktif (sudut fasa positif, tegangan mendahului arus).
  • Jika XL > XC, rangkaian bersifat kapasitif (sudut fasa negatif, arus mendahului tegangan).

 

2.     Analisa Impedansi pada Rangkaian RC seri!

Jawab :

Untuk mencari impedansi pada rangkaian RC seri, gunakan rumus :

      dengan,  R = 200 Ω & XC = 44.666,67 Ω

Karena nilai reaktansi kapasitif jauh lebih besar daripada nilai hambatan, maka nilai R2 menjadi tidak terlalu signifikan di dalam akar. Akibatnya, nilai impedansi total rangkaian hampir mendekati XC (Z = 44,667 k Ω)

Rangkaian ini tidak memiliki induktor, sifat rangkaian murni kapasitif. Dengan nilai XC yang sangat dominan dibanding R, sudut fasa rangkaian akan sangat mendekati -90o (leading).


 

3.     Analisa Impedansi pada Rangkaian RLC seri!

Jawab :

Untuk menghitung impedansi rangkaian RLC, gunakan rumus :

dengan :

R = 100 Ω

XL = 657,14 Ω

XC = 20.214, 26 Ω

Dari data hasil percobaan, terlihat bahwa XC  >> XL. Hasil impedansi yang didaptkan adalah Z = 19,557 kΩ (mendekati XC).  Karena XC  >  XL, rangkaian ini bersifat kapasitif. Arus total rangkaian akan mendahului (leading) tegangan total dengan sudut fasa negatif (mendekati -90o) karena komponen reaktifnya jauh lebih dominan daripada komponen resistifnya.

 

4.     Analisa Impedansi pada Rangkaian RLC Paralael!

Jawab :

Untuk menghitung impedansi rangkaian RLC paralel, gunakan rumus :

dengan :

R = 100 Ω, XC  = 3225 Ω, dan XL = 3935 Ω

Setelah dilakukan perhiyungann, didapatkan hasil Z = 99, 998 Ω. Sifat rangkaian paralel adalah kebalikan dari rangkaian seri. Nilai mpedansi total rangkaian paralel akan selalu lebih kecil daripada nilai cabang terkecilnya. Karena nilai R (100 Ω) jauh lebih kecil daripada XL dan XC, arus akan lebih memilih mengalir melewati resistor. Maka, impedansi total dikendalikan hampir sepenuhnya oleh resistor R.

Pada rangkaian paralel ini, nilai Z  R, sehingga memiliki  sifat yag sangat mendekati resistif murni. Sudut fasanya akan mendekati 0o(arus dan tegangan sefasa).


5. Download File[Kembali]

Download file Laporan Akhir di sini


Komentar

Postingan populer dari blog ini